Subhanallah

Subhanallah

Selasa, 07 Mei 2013

BAHAN AJAR PEMELIHARAAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) KELAPA SAWIT


BAHAN AJAR
PEMELIHARAAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM)
KELAPA SAWIT

I.    DEFINISI
Bahan ajar ini akan membahas tentang berbagai kegiatan yang dilakukan dalam proses pemeliharaan tanaman belum menghasilkan. Kegiatan-kegiatan didalamnya sangat penting untuk diperhatikan karena akan berpengaruh dengan keadaan pokok tanaman yang nantinya diharapkan menghasilkan buah secara maksimal sebagai produksi yang optimal.

II.   KOMPETENSI DASAR          

Mahasiswa dapat menjelaskan kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan.


III. INDIKATOR
1.   Menjelaskan tujuan dan manfaat pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
2.   Menjelaskan konsolidasi dan Penyisipan,
3.   Menjelaskan pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
4.  Menjelaskan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
5.   Menjelaskan pemupukan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
6.  Menjelaskan kegiatan penunasan dan kastrasi
7.  Menjelaskan memeliharaan prasarana kebun
8.  Menjelaskan persiapan prasarana panen

IV.          URAIAN MATERI
1.       Tujuan pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
Tujuan pemeliharaan TBM adalah untuk mendapatkan tanaman yang sama dalam hal pertumbuhannya, produktif dan berproduksi tinggi.
Manfaat pemeliharaan TBM mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman sawit sebagai penujang pertumbuhan generatif yang berproduksi tinggi.

2.            Konsolidasi dan Penyisipan
Konsolidasi. Tujuan konsolidasi untuk mengetahui keadaan tanaman sawit  yang ditanam, misalnya tanaman doyong, rusak oleh hama, mati atau  tumbuh tidak normal.
Hasil konsolidasi berupa informasi tanaman yang rusak (abnormal) atau mati. Penanganan atas data konsolidasi ini dapat berupa sisipan dan perbaikan kondisi tanaman.
Sisipan. Waktu sisipan terbaik adalah satu minggu setelah penanaman dan sebelum tahun pertama, hal ini dilakukan agar kehomogenan kebun terjaga. Penyisipan pada tahun ketiga (TBM III) dilakukan jika kerusakan yang terjadi pada luasan tertentu atau kelompok, pada masa ini penyisipan individu tidak dilakukan karena kurang optimal untuk tumbuh kembang tanaman sisipan diantara tanaman yang sudah tinggi. Didalam penyisipan,  tanaman yang mati harus segera diganti dengan bibit yang disiapkan sebagai sisipan (umur bibit sisipan sama dengan bibit yang akan diganti), sedangkan tanaman yang doyong diperbaiki dengan memasang penyangga. Penanaman sisipan dilakukan pada lubang tanam bekas tanaman yang rusak agar jarak tanam terjaga, pada lubang tanam dianjurkan diberi pupuk Rock Phosphate sebanyak 500 g.
3.            Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma pada tanaman kelapa meliputi beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk menangani pertumbuhan gulma pada areal perkebunan. Meliputi kegiatan wiping dan weeding.
Wiping. Wiping adalah mengusap daun dengan larutan herbisida. Wiping merupakan pengendalian gulma yang dilakukan pada gulma alang-alang.
Weeding. Weeding adalah pengendalian gulma dalam area kebun kelapa sawit baik dalam gawangan maupun piringan dengan cara penyiangan. Penyiangan dalam gawangan meliputi gulma yang berada diantara tanaman penutup tanah (LCC) sehingga dilakukan secara mekanik. Pelaksanaannya memiliki rotasi 16 kali dalam setahun pada TBM I. Sedangkan pada TBM II dan TBM III rotasi wiping 12 kali dalam setahun. Penyiangan pada piringan memiliki rotasi 12 kali pada TBM I dan 10 kali pada TBM II dan TBM III. Piringan adalah daerah disekitar pokok tanaman sawit yang berbentuk lingkaran berdiameter 2-3 m, diameter piringan tergantung pada umur TBM, TBM I : 2 m, TBM II : 2,5 m, TBM III : 3 m. Penyiangan atau pemberantasan tumbuhan liar pada area piringan dilakukan secara manual dan kimia.
a.  Penyiangan manual
Penyiangan manual dilakukan dengan cara menggaruk tumbuhan dalam diameter piringan dengan cangkul. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah terjadinya cekungan yang dapat menampung air dan berakibat rusaknya tanaman. Untuk menghindari hal itu, penggarukan dilakukan dari arah luar lingkaran ke dalam (tanaman). 
b.  Penyiangan kimia
Penyiangan kimia dapat dilakukan pada TBM III dengan rotasi 6 kali setahun dengan jenis herbisida sesuai dengan tumbuhan yang akan diberantas.

4.       Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama utama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) dan Orytes rhinoceros yaitu hama penggerek pucuk (titik tumbuh) kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan secara manual, kimia dan hayati
Penyakit yang banyak ditemui pada TBM adalah
-     Penyakit tajuk yang disebabkan faktor genetis dengan ciri-ciri adanya pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun terputus-putus.
-     Penyakit busuk tandan yang disebabkan pathogen marasmius palmivorus. Ditandai dengan adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kebersihan kebun, piringan pohon sempit/kecil, penunasan terlambat, defisiensi hara dan tingginya curah hujan.
-     Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Penularan penyakit melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awal terlihat pada daun TBM mengalami clorosis yang berlanjut mengeringnya anak daun dan pelepah, serta terjadinya pembusukan pada jeringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian hayati untuk Ganoderma dilakukan dengan pemberian Trichoderma spp.
5.       Pemupukan
Kegiatan pemupukan dilakukan secara efisien dan efektif. Beberapa persiapan yang dapat dilakukan untuk pencapaian tujuan tersebut adalah:
1.      Rencana kebutuhan pupuk, terinci per tahun tanaman, per afdeling, per blok/kesatuan, per jenis pupuk. Didapatkan dengan cara pengambilan contoh daun (KCD)
2.      Piringan pohon harus bersih secara eseluruhan
3.      Peta rencana pemupukan/pengeceran pupuk pada blok/KCD
4.      Jadwal pemupukan/program harian pemupukan, yang terinci per tanggal, per jenis pupuk, dosis pupuk, per tahun tanam, blok/kCD, dan jumlah kebutuhan tenaga.
Aplikasi pemupukan dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dibenam (pocket) dan disebar. Pemupukan dengan cara dibenam dilakukan dengan cara membuat lubang sedalam 10-20 cm di dalam piringan (3 – 4 titik), memasukkan pupuk kedalam lubang dan menutupnya kembali. Pemupukan dengan cara disebar dilakukan dengan cara menyebar pupuk di piringan dengan jarak 1 m dari pokok tanaman. Rotasi pemupukan TBM I : 4 kali setahun, TBM II dan TBM III : 3 kali setahun.
Adapun pupuk yang direkomendasikan diberikan pada tanaman dengan umur 1- 24 bulan adalah seperti dalam table 1, sedangkan tanaman dengan umur 28 bulan keatas sesuai dengan rekomendasi penelitian perkebunan dengan KCD.
Umur bulan
Gram/pohom
UREA
R.P
MoP
KIES
BORATE
-  Pupuk lubang
-  1
-  3
-  5
-  8
-  12
-  16
-  20
-  24
-

150
250
350
500
500
500
750
750
500

-
750
-
750
-
1000
-
1000
-

-
150
250
350
500
500
750
750
-

-
100
150
250
350
500
500
500
-

-
-
-
-
20
-
30
-
Sumber : vademecum budidaya kelapa sawit dan karet. PT perkebunan X
6.       Penunasan dan kastrasi
Penunasan adalah pembuangan daun tua kelapa sawit yang tidak bermanfaat bagi tanaman. Penunasan dilakukan setelah TBM berumur 15 bulan. Rotasi dilakukan 6 bulan.
Kastrasi adalah pembuangan bunga jantan dan betina. Tujuan kastrasi adalah :
1.    Merangsang pertumbuhan vegetatife
2.    Untuk mendapatkan buah dengan berat/tandan yang relatife seragam
3.    Menjaga kebersihan tanaman, sehingga mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit.
Kastrasi dilakukan dengan cara memotong bunga menggunakan chisel. Rotasi kastrasi adalah satu kali dalam sebulan.
  Keuntungan kastrasi adalah
§ Pembuangan tandan yang sangat kecil yang tidak ekonomis untuk dipanen.
· Pengalihan hasil fotosintesis dari pertumbuhan generatif ke vegetatif untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan keseragaman tanaman.
§ Peningkatan pertambahan bobot dan perbaikan keseragaman tandan
§ mempermudah pemeliharaan.
§ Pengolahan tandan lebih mudah karena tandan telah matang, berukuran lebih besar, dan lebih seragam.
§ Pertumbuhan vegetatif awal yang lebih baik akan menghasilkan pertumbuhan tajuk yang lebih cepat dan pengendalian yang lebih balk.
§ Memperlambat pengiriman tandan ke pabrik jika pabrik kelapa sawit tampaknya belum selesai dibangun.
Kelemahan kastrasi adalah
§ Penggunaan tenaga kerja yang intensif dan mahal.
§ Dapat menyebabkan tanaman muda terserang hama dan jamur.
§ Memperlambat pertambahan populasi serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaedobius kamerunicus).
§ Kehilangan produksi berarti kehilangan penghasilan.

7.       Pemeliharaan prasarana kebun
Pemeliharaan prasarana kebun meliputi pemeliharaan Jalan, teras, dan parit drainase. Jalan produksi dibuat sejak TBM dan pengerasan dilakukan secara bertahap, sehingga saat tanaman menghasilkan, kondisi jalan sudah baik. Permukaan jalan diusahakan cembung agar tidak terjadi genangan, parit air dijaga untuk drainase kebun. Pemeliharaan jalan dilakukan 2 kali setahun. Pemeliharaan parit dilakukan dengan mengangkat tanah yang tertimbun di dalam parit, pemeliharaannya dilakukan 2 kali dalam setahun. Teras/rorak dipelihara dengan mengangkat tanah yang masuk kedalam rorak ke atas teras. Pemeliharaannya dilakukan sekali setahun.
8.       Persiapan prasarana panen
Persiapan prasarana panen meliputi pembuatan jalan pikul dan TPH. Jalan pikul dibuat ditengah-tengah gawangan kelapa sawit. Dibangun secara bertahap yakni setiap 8 baris tanaman 1 jalan pikul, tahap kedua setiap 4 baris tanaman, dan menjelang panen setiap 2 baris tanaman. Pembuatan jalan pikul pada arean LCC dapat dilakukan secara kimia dengan penyemprotan herbisida. Tempat pengumpulan hasil (TPH). Tempat pengumpulan hasil (TPH) dibuat menjelang panen. TPH dibuat diujung jalan pikul dengan ketentuan 2 jalan pikul dubuat 1 TPH dengan ukuran 2m x 3m

Gambar 6. Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) kelapa sawit dan jalan pikul6 & 7

V.           RANGKUMAN
Pemeliharaan tanaman belum menghasilkan mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat tanaman sawit belum berproduksi. Tujuan dilakukannya kegiatan-kegiatan ni adalah untuk mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif kelapa saiwt sehingga dapat menunjang secara maksimal vase generatif yang ditengarai dengan produktifitas yang tinggi. Pada awal kegiatan pemeliharaan konsolidasi dan penyisipan ditujukan untuk mengetahui dan sekaligus memperbaiki tanamn sawit yang tumbuh kurang optimal baik yang disebabkan oleh faktor genetic maupun hama dan penyakit. Kegiatan pengendalian dilakukan untuk gulma dan hama penyakit memungkinkan tanaman tumbuh dan berkembang dengan  baik. Pemupukan adalah kegiatan yang bertujuan menjaga kesuburan tanah sehingga ketersediaan unsur hara penting dalam pertumbuhan kelapa sawit dapat terpenuhi. Penunasan dan kastrasi bertujuan untuk penangan pokok kelapa sawit terkait pelapah dan buah muda. Pemeliharaan prasarana kebu n meliputi pemeliharan jalan, parit dan teras. Pembuatan prasarana panen dilakukan dengan pembuatan jalan pikul dan TPH.
VI.          EVALUASI
A.   Tugas
Dilakukan oleh kelompok:
1.     Meninjau perawatan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan dilingkungan tempat tinggal mahasiswa
2.     Menyimpulkan permasalahan dalam perawatan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan di masyarakat
3.     Menyusun solusi
B.   Tes Formatif
1.     Kegiatan pemeliharaan kelapa sawit belum menghasilkan dimulai dari penanaman bibit dilapangan hingga panen pertama, meliputi konsolidasi, penyisipan, pengendalian gulma dan hama penyakit, pemupukan, penunasan dan kastrasi.  jelaskan  pentingnya kegiatan-kegiatan tersebut ?
2.     Jelaskan mengapa kegiatan pemupukan dilakukan secara efektif dan efisien, upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut !

  DAFTAR PUSTAKA
Kiswanto, Purwanta, Jamhari Hadi Purwanta dan bambang Wijayanto. (2008). Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Lampung: Balai Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. http://lampung.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/publikasi/sawit.pdf diakses tanggal 2 mei 2013


PTPN X. (1993). Vademencum Budidaya Karet dan Kelapa Sawit. Bandar lampung: PTPN X.

Dewi Riniarti,  dan Bambang Utoyo. (2012). Budidaya tanaman Kelapa sawit. Malang: Wineka Media



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

diharapkan masukannya, agar lebih baik lagi ^_^,,