Subhanallah

Subhanallah

Rabu, 02 Juni 2010

Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Kedelai Var Mitani

LAPORAN PRAKTIKUM
BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM LANJUTAN
Pengaruh Jarak Tanam Pada Budidaya Kedelai Varietas Mitani

















Oleh:

Dwi Efraniza Oktami (05071001007)
Nurrahmawati N (05071001038)




PROGRAM STUDI AGRONOMI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010
Pengaruh Jarak Tanam Pada Budidaya Kedelai Varietas Mitani

Dwi Efraniza Oktami*. Nurrahmawati N*
*Agro Tekno Park (ATP) di Desa Gelumbang, Indaralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Palembang.

Abstrak
Kedelai (Glysine max (L) Merril) merupakan salah satu mata dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Praktikum ini dilaksanakan pada lahan kering Agro Tekno Park (ATP) di desa gelumbang, Indaralaya, kabupaten Ogan Ilir, Palembang. Dengan ketinggian tempat 15 m dpl. Praktikum dilaksanakan dari bulam April (MT 15 april) sampai Mei 2010.Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas Mitani.Praktikum ini merupakan percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu perlakuanyaitu jarak tanam dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jarak tanam yang terdiri atas 4 taraf, yaitu (I) 40 cm x 20 cm, (II) 40 cm x 10 cm, (III) 30cm x 20 cm, dan (IV) 30 cm x 10 cm. Dengan perlakuan populasi tetap, yaitu jarak tanam X x 20 cm menggunakan 1 benih, dan jarang tanam X x 10 cm menggunakan 1 benih. Populasi tanaman diatur dalam petak berukuran 4 m x 4 m dengan jumlah tanaman 462, 488, 451, 457. Pengamatan komponen pertumbuhan menggunakan sample sebanyak 5 tanaman di setiap petak. Perlakuan yang diujicobakan sebagai variabel bebas adalah sebagai berikut: Faktor jarak tanam (J) terdiri 4 tingkat: J1 = 40 cm x 20 cm, J2 = 30 cm x 20 cm, J3 = 40 cm x 10 cm, J4 = 30 cm x 10 cm. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman dan jumlah cabang pertanaman. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai lebih baik pada perlakuan JIII (30 cm x 20 cm), karena memiliki nilai hasil yang tinggi dibandingkan perlakuan lain (JI, JII, dan J IV) baik pada parameter pengamatan tinggi tanaman maupun cabang primer (gambar 1 dan 2).

Kata kunci : kedelai var. mitani, jarak tanam.


PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril). Kedelai merupakan salah satu mata dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam dekade terakhir, untuk dapat memenuhi permintaan nasional yang cenderung terus meningkat, untuk tahun 1989 impor kedelainya masih di bawah 400.000 ton. Sedangkan pada tahun 1996, impor melonjak menjadi mendekati 800.000 ton, suatu peningkatan sebesar 100%. Besarnya angka impor tersebut merupakan salah satu indikator betapa besar kebutuhan kedelai untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kegunaan kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah untuk memasok kebutuhan pokok berbagai jenis produk olahan. Produksi kedelai yang diusahakan secara monokultur secara intensif, se-benarnya dapat mencapai 2,00 – 2,50 ton per Ha. Akan tetapi karena pertimbangan teknis dalam MK PKT ini angka produksi yang digunakan untuk analisis adalah sebesar 1,5 ton.Sedangkan produksi secara tradisional maksimum hanya 1,00 – 1,50 ton per ha. Produksi kedelai yang diusahakan secara tumpangsari dengan jagung secara intensif dapat mencapai 1,5 – 1,75 ton kedelai per Ha dan 2 – 2,5 ton jagung per Ha. Dengan cara intensifikasi ini selain produksinya meningkat, juga kualitasnya (ukuran biji, keutuhan) meningkat pula, sehingga harganya juga akan meningkat. Dengan demikian pendapatan petani atau laba usaha akan meningkat dengan adanaya kenaikan produksi dan harga. Untuk mengantisifikasi pesatnya permintaan di dalam negeri, selain meningkatkan kuantitas lahan budidaya (yaitu pertambahan areal penanaman) juga harus dipertimbangkan peningakatan kualitas budidaya (yaitu peningkatan produktivitas tanaman) dengan cara penerapan teknologi budidaya tanaman kedelai yang lebih modern daripada teknologi yang diterapkan selama ini.Perlunya teknologi yang lebih maju ini, mengingat tanaman sebenarnya adalah tanaman sub tropis, sehingga budidaya tanaman kedelai di negara tropis hasilnya lebih rendah dari pada di negara-negara sub tropis yang mampu mencapai produksi hingga 4 ton per ha. Dengan penerapan teknologi yang maju ini, sehingga produksi tanaman kedelai diharapkan akan meningikat setidaknya menjadi rata-rata 2,5 ton per Ha. Budidaya tanaman kedelai di masa depan perlu menyusun perencanaan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan-bahan kimia, dengan menerapkan teknologi yang akrab lingkungan, yaitu penerapan teknologi bio-plus. Dengan penerapan teknologi yang lebih maju dan mengurangi bahan-bahan kimia ini, maka PKT budidaya tanaman kedelai kelak akan menghasilkan produktivitas yang lebih baik dan akrab lingkungan. Cara yang paling tepat untuk mencapai penerapan teknologi masa depan pada setiap PKT ini, adalah mendorong perusahaan INTI untuk menyusun suatu konsep pengembangan PKT yang berorientasi ke depan secara gradual, baik secara individual oleh perusahaan Inti itu sendiri, atau bekerjasama dengan isntitusi lain seperti Lembaga-Lembaga Penelitian (dari universitas atau lembaga lainnya). Praktikum ini bertujuan ntuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan kedelai (Glysine max (L) Merril) var. mitani.
BAHAN DAN METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada lahan kering Agro Tekno Park (ATP) di desa gelumbang, Indaralaya, kabupaten Ogan Ilir, Palembang. Dengan ketinggian tempat 15 m dpl. Praktikum dilaksanakan dari bulam April (MT 15 april) sampai Mei 2010. Dengan pengukuran tinggi tanaman dan penghitungan jumlah cabang primer sebanyak dua kali pengukuran.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas Mitani. Alat yang digunakan tali tambang, meteran dan pancang.
Praktikum ini merupakan percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu perlakuanyaitu jarak tanam dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jarak tanam yang terdiri atas 4 taraf, yaitu (I) 40 cm x 20 cm, (II) 40 cm x 10 cm, (III) 30cm x 20 cm, dan (IV) 30 cm x 10 cm. Dengan perlakuan populasi tetap, yaitu jarak tanam X x 20 cm menggunakan 1 benih, dan jarang tanam X x 10 cm menggunakan 1 benih.
Populasi tanaman diatur dalam petak berukuran 4 m x 4 m dengan jumlah tanaman 462, 488, 451, 457. Pengamatan komponen pertumbuhan menggunakan sample sebanyak 5 tanaman di setiap petak.
Perlakuan yang diujicobakan sebagai variabel bebas adalah sebagai berikut: Faktor jarak tanam (J) terdiri 4 tingkat: J1 = 40 cm x 20 cm, J2 = 30 cm x 20 cm, J3 = 40 cm x 10 cm, J4 = 30 cm x 10 cm.
Adapun hal yang diamati terdiri atas Komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan jumlah cabang pertanaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan tanaman kedelai varietas mitani dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:



Tabel 1.1 Pengamatan pertama

Blok Tinggi Tanaman (cm) Rata-rata
1 2 3 4 5
JI 24 25 21 22.5 17 21.9
JII 22.3 21.2 20 20 23.5 21.4
JIII 19 21.5 22 17 20 19.9
JIV 20 22.5 15 24.5 25 21.4
JI 23.5 21 20 22 22 21.7
JII 19 21.3 28 25 19.5 22.56
JIII 25 27 35 25 22 26.8
JIV 14 20 19 20 22 19
JI 23 20 18 15 19 19
JII 20 22 19 20 21 20.4
JIII 24 20 21 20 18 20.6
JIV 18 19 17 23 15 18.4

Tabel 1.2 Pengamatan kedua

Blok Tinggi Tanaman (cm) Rata-rata
1 2 3 4 5
JI 27.5 23.4 26.9 24.6 18.7 24.22
JII 30.1 21.8 20.4 23.7 21.7 23.54
JIII 23 25.3 19.2 27.2 21.5 23.24
JIV 22.8 16.8 28.8 22.2 27.7 23.66
JI 20 29 25.3 21.6 20.2 23.22
JII 16.9 18.4 24.8 19.2 22 20.26
JIII 20.5 30.1 33.3 18.6 22 24.9
JIV 19.2 26.8 21.5 23.8 22.4 22.74
JI 20 23 29 28 23 24.6
JII 22 30 28 25 27 26.4
JIII 26 27 30 27 25 27
JIV 28 33 35 20 26 28.4

Tabel 2.1 Pengamatan pertama

Blok Jumlah Cabang Rata-rata
1 2 3 4 5
JI 2 2 2 2 2 2
JII 1 2 2 2 2 1.8
JIII 1 1 1 1 1 1
JIV 1 1 1 1 1 1
JI 1 1 2 1 1 1.2
JII 1 1 1 1 1 1
JIII 1 1 1 1 2 1.2
JIV 1 1 1 1 1 1
JI 1 1 1 1 1 1
JII 1 2 1 1 1 1.2
JIII 1 1 1 1 2 1.2
JIV 1 1 1 1 1 1

Tabel 2.2 Pengamatan kedua

Blok Jumlah Cabang Rata-rata
1 2 3 4 5
JI 9 10 10 9 7 9
JII 10 9 9 9 9 9.2
JIII 11 9 9 10 7 9.2
JIV 7 8 10 7 10 8.4
JI 9 9 10 10 8 9.2
JII 7 7 9 7 9 7.8
JIII 9 12 8 6 7 8.4
JIV 6 9 6 7 7 7
JI 4 6 8 7 6 6.2
JII 5 10 10 6 8 7.8
JIII 8 6 8 7 8 7.4
JIV 7 7 9 8 5 7.2

Perlakuan jarak tanam :
I = 40 cm x 20 cm
II = 40 cm x 10 cm
III = 30cm x 20 cm
IV = 30 cm x 10 cm

Tabel 3 Data pengamatan tinggi tanaman
Tabel 3.1 Pengamatan pertama

Perlakuan Ulangan Total Rerata
1 2 3
JI 21.9 21.7 19 62.6 20.86667
JII 21.4 22.56 20.4 64.36 21.45333
JIII 19.9 26.8 20.6 67.3 22.43333
JIV 21.4 19 18.4 58.8 19.6
Total 84.6 90.06 78.4 63.265 21.08833

Tabel 3.2 Pengamatan kedua

Perlakuan Ulangan Total Rerata
1 2 3
JI 24.22 23.22 24.6 72.04 24.01333
JII 23.54 20.26 26.4 70.2 23.4
JIII 23.24 24.9 27 75.14 25.04667
JIV 23.66 22.74 28.4 74.8 24.93333
Total 94.66 91.12 106.4 292.18 24.34833

Tabel 4 Data pengamatan
Tabel 4.1 Pengamatan pertama

Perlakuan Ulangan Total Rerata
1 2 3
JI 2 1.2 1 4.2 1.4
JII 1.8 1 1.2 4 1.333333
JIII 1 1.2 1.2 3.4 1.133333
JIV 1 1 1 3 1
Total 5.8 4.4 4.4 3.65 4.866667

Tabel 4.2 Pengamatan kedua

Perlakuan Ulangan Total Rerata
1 2 3
JI 9 9.2 6.2 24.4 8.133333
JII 9.2 7.8 7.8 24.8 8.266667
JIII 9.2 8.4 7.4 25 8.333333
JIV 8.4 7 7.2 22.6 7.533333
Total 35.8 32.4 28.6 96.8 8.066667




Gambar 1. Grafik tinggi tanaman


Gambar 2. Grafik Jumlah Cabang



Analisis data tinggi tanaman (Tabel 3.2)

SR DB Jk Kt F hitung F tabel
1 % 5 %
Perlakuan 3 5.524367 1.841456 0.820861 n.s 4,76 9,78
Kelompok 2 31.98647 15.99323 7.129263 * 5,14 10,92
Error 6 13.45993 2.243322
Total 11 50.97077
Analisis data Jumlah cabang primer (Tabel 4.2)

SR DB Jk Kt F hitung F tabel
1 % 5 %
Perlakuan 3 1.2 0.4 0.745342 n.s 4,76 9,78
Kelompok 2 6.486667 3.243333 6.043478 * 5,14 10,92
Error 6 3.22 0.536667
Total 11 10.90667

Keterangan :
n.s = tidak berbeda nyata
* = berbeda nyata

Perbedaan antar Perlakuan tidak berbeda nyata, antar kelompok berbeda nyata baik pada pengamatan tinggi dan jumlah cabang primer.


Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis keragaman, praktikum ini menunjukan bawa perlakuan jarak tanamn pada tanaman kedelai berpengaruh nyata atara kelompok dan tidak berpengaruh nyata antar perlakuan terhadap semua parameter yang diamati.
Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa pertumbuhan vebetatif tanaman kedelai lebih baik pada perlakuan JIII (30 cm x 20 cm), karena memiliki nilai hasil yang tinggi dibandingkan perlakuan lain (JI, JII, dan J IV) baik pada parameter pengamatan tinggi tanaman maupun cabang primer (gambar 1 dan 2).
Penagamatan awal tentang pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai ini, tidak dapat dipungkiri sangat berkorelasi positif terhadap produktivitas. Jarak tanam yang sesuai pertumbuhan memberikan kemungkinan kedelai tumbuh dengan leluasa tanpa adanya perebutan unsur hara yang sangat penting untuk pembentukan polong dan biji.
Pertumbuhan vegetatif yang baik, yaitu pembentukan cabang primer dan tinggi tanaman sangat memepengaruhi hasil yang di dapat. Dimana polong kedelai terbentuk pada ketiak cabang. Jumlah cabang memberikan indikasi jumlah polong yang akan muncul. Cabang primer yang banyak memeberikan jumlah daun yang banyak, sehingga daun yang terbentuk pun banyak. Diasumsikan proses fotosintesis akan meningkat dengan jumlah daun yang banyak, sehingga produksi pada taraf generatif juga meningkat.
Dalam praktikum ini, hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iklim dan tanah. Iklim khususnya curah hujan. Praktikum dilaksanakan pada bulan hujan, sehingga air tidak menjadi kendala, namun kurang sesuai bagi kedelai yang menyukai lahan kering. Sedangakan untuk pengaruh dari faktor lingkungan selanjutnya yaitu tanah, telah diantisipasi dengan pengeblokan dan ulangan praktikum yang dilakukan.
Pertumbuhan vegetatif baik yang diindikasikan dari data hasil melalui pengamatan tinggi dan jumlah cabang primer pada perlakuan JIII, adalah bukti bahwa tanaman memerlukan ruang untuk hidup dan berkembang. Pada perlakuan JIII yaitu jarak tanam 30 cm x 20 cm dengan jumlah benih tanam 2 benih. Dimunkinkan terjadinya persaingan yang minim, baik pada pengambilan unsur hara maupun air, sehingga tanaman tumbuh dengan baik.
Rekomendasi dari praktikum ini adalah perlu dilakukan praktikum yang sejeis dengan parameter pengamatan saat pertumbuhan generatif dan hasil.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Analisis data menunjukkan tidak berbeda nyata antar perlakuan dan berbeda nyata antar kelompok, pada dua parameter praktikum yang diamati yaitu tinggi tanaman dan jumlah cabang primer.
2. Pertumbuhan vegetatif tanamn kedelai baik pada perlakuan jarak tanam JIII yaitu 30 cm x 20 cm dengan jumlah benih tanam 2 benih per lubang tanam.
3. Persaingan antar tanaman kedelai yang minim akan memberikan hasil yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Bowers, G.R.,
J.L.Rabb.,L.O.Ashlock., and
J.B. Santini.2000.Row
spacing in the early soybean
production system.agron.J.92
: 524-531.
Effendi, I dan M. Utomo.1993.
Analisis perbandingan tenaga
kerja, produksi dan produksi
pendapatan usaha tani kedelai
pada sistem tanpa olah tanah
dan tanah biasa di Rawa
Sragi, Lampung. Dalam M.
Utomo et al.(Eds.)Prosiding
Nasional IV Budidaya
Pertanian Olah Tanah
Konservasi ; hal 247-253.
Fachruddin, Lisdiana. Ir.2000.
Budidaya Kacang-kacangan.
Penerbitan Kanisius.
Yogyakarta.
Manik,T.K.,M. kamal dan K.
Setiawan. 1993. Tanggapai
berbagai varietas kedelai
(Glycine max (L) Merril)
pada populasi tanaman
terhadap pola intersepsi
cahaya dan komponen hasil.
Prosiding Seminar Penelitian
BKS-Barat,Palembang.
Setyati, SH. 1999. Pengantar
Agronomi. Gramedia,
Jakarta.